Tag: Ekologikal

Isu Yang Beredar Mengenai Ekologikal Agama Islam Di USA

Sebagai negara yang menganut paham liberalisme, namun tak sedikit penduduk Amerika Serikat yang menganggap penting agama dalam peran kehidupan sehari-hari. Pemerintah Amerika Serikat tidak mengakui suatu agama apapun sebagai agama resmi di negaranya sehingga Amerika Serikat disebut sebagai negara sekuler. Meskipun begitu pemerintah Amerika Serikat membebaskan penduduknya untuk menganut agama sesuai pilihan penduduknya sendiri. Kebebasan beragama di Amerika Serikat memiliki dasar hukum yang tercamtum dalam Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.

Agama mayoritas di Amerika Serikat adalah kriten dengan persentase penduduk yang menganut agama tersebut sebesar 70,6%, dilansir dalam laporan Pusat Penelitian Pew pada tahun 2014. Pada posisi kedua di duduki oleh agama Yahudi dengan persentase 1,9% dari populasi penduduk Amerika Serikat. Meskipun bukan agama mayoritas, namun banyak tokoh yang berperan penting dalam politik Amerika Serikat yang menganut etnis Yahudi. Tak hanya dalam bidang politik, penganut agama Yahudi juga banyak yang menjadi pebisnis agen bola online yang sukses.

Dalam peringkat ketiga agama non-kristen ditempati oleh agama islam dengan persentase 0,9% dari populasi penduduk Amerika Serikat. Selain umat muslim, di Amerika Serikat juga terdapat penganut agama Hindu dan Budha yang dibawa oleh imigran dari Asia Selatan dan Asia Timur. Sisanya adalah penduduk yang menganut paham ateisme dan agnostisisme sebanyak 22,8%.

Menurut penelitian Pusat Penelitian Pew tercatat penurunan penganut agama khususnya agama kristen, dan sebaliknya terjadi peningkatan penduduk yang tidak menganut satu agama apapun sebanyak 6,7% dalam kurun waktu 7 tahun dari tahun 2007 hingga 2004. Dalam perkembangannya, populasi umat muslim di Amerika Serikat semakin meningkat semenjak terjadinya peristiwa Serangan 11 September 2001. Pada awalnya penduduk Amerika Serikat memandang negatif terhadap umat muslim, mereka merasa aneh dengan budaya umat muslim dikarenakan telah terbiasa dengan budaya kristiani serta Yahudi yang dimana lebih dulu dan lebih lama berada dalam Amerika Serikat dan memiliki visibilitas tinggi.
Bahkan dalam survey yang mereka lakukan tercatat hanya sekitar 30% penduduk Amerika Serikat yang mengetahui agama Islam dan hanya 1 dari 4 warga Amerika Serikat yang menenal umat muslim.

Setelah melewati masa sulit yaitu ketika peristiwa 11 September lalu, perlakuan intimidasi, demonstrasi, dan vandaslisme yang menyebabkan sebagian umat muslim ketakutan, kini pandangan negatif terhadap umat muslim semakin memudar.

Atas usaha, dukungan dan solidaritas yang muncul dalam masyarakat setempat, pemerintah Amerika Serikat menyadari bahwa mayoritas penduduknya berada dipihak umat muslim. Bahkan beberapa komunitas dari berbagai agama lain dan berbagai siswa-siswi dari sekolah negeri, memberikan dukungan dengan membuat “barisan pagar manusia” bersama dengan umat muslim untuk menjaga sekolah islam yang telah didirikan, perumahan muslim serta masjid.
Bahkan walikota Chicago yaitu Richard Delay menyatakan bahwa pemerintah dan aparat kota Chicago tidak akan mentoleransi tindakan diskriminatif dan intimidasi terhadap umat muslim dan segala etnis serta agama apapun. Hal ini terjadi karena banyaknya umat muslim yang menjadi aktivis politik di negara bagian illinois, terkhusukan di The Greater Chicago.

Hubungan baik yang terjalin antara umat muslim dengan segenap walikota, polisi, kelompok bisnis dan lain-lain menjadikan banyaknya dukungan yang diberikan untuk masyarakat muslim untuk bertahan. Terdapat sekitar 400 ribu umat muslim yang aktif ikut dalam organisasi muslim yang berada di Chicago dan sekitarnya.

Sikap toleransi yang diajarkan dalam agama islam, terwujudkan dalam segenap organisasi yang memiliki program dengan mengirimkan pramuka muslim yang bekerja sama dengan Komunitas masyarakat yang memiliki kesulitan dalam ekonomi tanpa memandang ras suku dan agama tertentu. Pada akhirnya umat muslim dapat diterima dengan baik oleh penduduk Amerika Serikat, dan terus mengalami peningktan populasi penduduk setiap tahunnya.

Isu Ekologikal Agama Di USA Lebih Masif Dibandingkan Negara Lain

Bumi merupakan salah satu planet tempat tinggal manusia dan berbagai makhluk lainnya saat ini sedang mengalami krisis yang cukup serius. Berbagai bentuk polusi dan kerusakan lingkungan muncul sebagai suatu hal yang sangat meresahkan. Oleh sebab itu, jika hal ini terus dibiarkan maka dapat mengancam dan membahayakan bagi kehidupan generasi selanjutnya atau anak cucu kita di masa mendatang. Kerusakan lingkungan ini kadang dinilai sebagai suatu polemik karena tidak adanya peran serta atau upaya penanggulangan dari umat beragama yang ada di dunia. Bahkan, tidak jarang dijumpai sebagian kaum beragama justru salah menafsirkan apa yang telah diajarkan dalam agamanya mengenai eksploitasi alam yang berlebihan sehingga bisa mengancam kehidupan umat manusia. Seperti misalnya peran seorang manusia layaknya pemimpin di muka bumi atau khalifah fil ard yang sering disalahartikan sebagai seseorang pemimpin yang melegitimasi atau membenarkan semua tindakan yang harus dilakukan, termasuk juga upaya eksploitasi alam dalam rangka memperoleh sumber daya alam guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidup dengan tidak mempedulikan lingkungan.

Salah satu contoh polemik yang telah disebutkan di atas menjadi salah satu penyebab muncuknya isu ekologikal dalam dunia agama, baik itu dalam tingkat nasional sampai internasional sekalipun. Kasus semacam ini bisa terjadi dimanapun, tidak harus pada negara yang sedang mengalami konflik. Seperti halnya Amerika yang ramai diperbincangkan baru-baru ini mengenai kasus tewasnya George Floyd di Miami, Florida, AS. Dalam kasus ini banyak terdapat demonstran dari kalangan umat muslim yang sebelumnya telah melakukan sholat berjamaah. Aksi demo ini dilakukan dengan tujuan menentang rasialisme di Amerika yang justru pada akhirnya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Kasus ini sangat trending di dunia maya dan sempat menjadi pokok pemberitaan di kalangan madyarakat dunia.

Disamping kasus kematian pria berkulit hitam, George Floyd, Amerika juga tidak terlepas dari isu ekologikal agama yang erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kepemimpinan umat beragama. Hal ini sangat memungkinkan terjadi di Amerika mengingat berbagai macam teknologi yang digunakan Amerika ialah teknologi canggih dan modern sehingga dampaknya justru lebih masif dirasakan, khususnya dalam kelestarian lingkungan. Salah satu contohnya yakni pembuangan limbah industri besar yang dapat merusak ekosistem air ataupun tanah. Pembuangan limbah di Amerika bisa dikatakan lebih berbahaya dibandingkan pembuangan limbah di Indonesia atau beberapa negara berkembang lainnya karena terdapat perbedaan jenis industri yang kebanyakan dijalankan. Semakin maju suatu negara maka semakin canggih pula produktivitas dan hasil industrinya seperti misalnya penggunaan bahan kimia dan berbagai teknologi pembangkit energi terbaru seperti misalnya nuklir.

Isu ekologikal agama di Amerika bisa berkembang dengan pesat dibandingkan beberapa negara lainnya dikarenakan lingkungan alamnya pada dasarnya memang tidak begitu subur. Dengan demikian, isu ekologi yang muncul tidak hanya karena kelalaian umat manusia dalam menjalankan berbagai aktivitasnya sehari-hari dalam mengolah sumber daya alam, melainkan karena lingkungan dan potensi alamnya sendiri. Berbeda dengan negara lain seperti misalnya Indonesia yang memang memiliki lingkungan subur dan sangat potensial jika dikembangkan untuk kawasan pertanian dan perkebunan. Dengan demikian, di tengah krisis ekologi yang semakin sengit ini seharusnya umat beragama mampu menggungat sikap keberagannya bukan justru sebaliknya atau ikut melakukan eksploitasi dan merusaknya hanya demi kepentingan pribadi. Disamping itu, penafsiran mengenai ilmu agama juga seharusnya dikaji lebih dalam lagi agar tidak rancu atau salah pemahaman.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!