Category: Blog

Ekologikal Agama Dari Teologi ke Teologikal

Ekologikal Agama Dari Teologi ke Teologikal – Ahli zoologi Jerman, Ernst Haeckel, menciptakan kata “ekologi” pada abad kesembilan belas untuk menggambarkan studi tentang “semua hubungan timbal balik yang kompleks” di alam yang diperlihatkan Darwin sebagai kondisi perjuangan untuk eksis, Tentu saja, umat manusia telah mempelajari alam sejak awal mereka hidup di Zaman Batu. Dari sana juga mereka mengenal agama sebagai satu jalan keselamatan, juga yang membantu penyelidikan ekologis pertama manusia atas realitas alam.

Alam berfungsi sebagai panduan penting untuk memahami dan menata lingkungan manusia; upacara keagamaan, tidak bukan tidak lain awalnya untuk memuja alam. Ada gambaran lewat cerita dan mitos, seperti dewa petir, dewa kambing, dewa air, dewa matahari, manusia prasejarah menafsirkan dunia secara natura dan berupaya memahaminya. Lalu dengan cara memahami alam juga mereka bisa berpantang makan beruang di semua kesempatan, namun mau memakan bison, artinya manusia mulai mampu lakukan klasifikasi, mana bahan makanan, mana predator.

Sampai akhirnya tumbuh yudaisme dan akhirnya kristen. Ajaran Yahudi-Kristen tentang dunia alami dimulai dengan permulaan: hanya ada satu Tuhan, yang berarti bahwa ada tatanan yang dapat diketahui untuk alam; Dia menciptakan manusia menurut gambar-nya, yang memberikan manusia tempat yang tinggi dalam urutan itu; dan Dia memberi manusia penguasaan atas dunia alami: melalui imbal balik saling kesepahaman, Tuhan memberkati mereka, dan Tuhan berfirman kepada mereka, berbuahlah, dan berlipat ganda, dan isi kembali bumi, dan menaklukkannya: dan berkuasa atas ikan di laut, dan atas unggas di udara, dan atas setiap makhluk hidup yang bergerak di bumi. Hal yang sama terjadi dalam ajaran sang adik terkecil mereka juga, Islam, yang menyebut manusia adalah penguasa alam yang disebut khalifah.

Sehingga muncul darinya para ekologikal agama, berbekal dalil-dali suci, mereka menemukan tautan bahwa manusia dan alam harus serasi. Misalkan “Dan Tuhan berkata, Lihatlah, Aku telah memberikan kepadamu setiap ramuan yang membawa benih, yang ada di muka seluruh bumi, dan setiap pohon, yang di dalamnya adalah buah dari pohon yang menghasilkan benih; bagimu itu untuk daging.

Dalam esai seminalisnya, “Akar Sejarah Krisis Ekologis Kita”, yang diterbitkan dalam majalah Science pada tahun 1967, sejarawan Lynn Townsend White, Jr berpendapat bahwa ajaran Alkitab itu menjadikan Kekristenan, “terutama dalam bentuk Baratnya,” “agama yang paling antroposentris yang jauh dari pemahaman dunia sebelumnya. Berbeda sekali dengan maraknya kisah animisme atau kekafiran, Kekristenan lebih mengemukakan “dualisme manusia dan alam” dan “bersikeras bahwa adalah kehendak Tuhan untuk manusia agar mengeksploitasi alam untuk tujuan yang tepat.”

Sementara kredo kristen ala protestan memberikan catatan bahwa Kekristenan mengandalkan arah teleologis terhadap sejarah, dan dengan itu kemungkinan kemajuan. Keyakinan akan kemajuan ini melekat dalam sains modern dan akhirnya teknologi, memungkinkan terjadinya Revolusi Industri. Demikianlah kekuatan untuk mengendalikan alam yang dicapai oleh peradaban yang mewarisi lisensi untuk mengeksploitasinya. Bagi White, ini bukan perkembangan historis yang positif. White ikut perihatin atas perusakan alam oleh budaya teknologi-industri yang dilandaskan pada penguasaan kerajaan Tuhan via kapitalisme, di mana semangatnya sejalan dengan semangat protestanisme. Apa pun manfaat yang telah dibawa inovasi ilmiah dan teknologi kepada umat manusia dikalahkan oleh kekuatan ekstraksi yang “tidak terkendali”. Kekristenan, tulis White, “menanggung beban rasa bersalah yang sangat besar” atas kerusakan lingkungan, pemahaman ini harus diperbaiki.

Isu Ekologikal Agama Di USA Lebih Masif Dibandingkan Negara Lain

Bumi merupakan salah satu planet tempat tinggal manusia dan berbagai makhluk lainnya saat ini sedang mengalami krisis yang cukup serius. Berbagai bentuk polusi dan kerusakan lingkungan muncul sebagai suatu hal yang sangat meresahkan. Oleh sebab itu, jika hal ini terus dibiarkan maka dapat mengancam dan membahayakan bagi kehidupan generasi selanjutnya atau anak cucu kita di masa mendatang. Kerusakan lingkungan ini kadang dinilai sebagai suatu polemik karena tidak adanya peran serta atau upaya penanggulangan dari umat beragama yang ada di dunia. Bahkan, tidak jarang dijumpai sebagian kaum beragama justru salah menafsirkan apa yang telah diajarkan dalam agamanya mengenai eksploitasi alam yang berlebihan sehingga bisa mengancam kehidupan umat manusia. Seperti misalnya peran seorang manusia layaknya pemimpin di muka bumi atau khalifah fil ard yang sering disalahartikan sebagai seseorang pemimpin yang melegitimasi atau membenarkan semua tindakan yang harus dilakukan, termasuk juga upaya eksploitasi alam dalam rangka memperoleh sumber daya alam guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidup dengan tidak mempedulikan lingkungan.

Salah satu contoh polemik yang telah disebutkan di atas menjadi salah satu penyebab muncuknya isu ekologikal dalam dunia agama, baik itu dalam tingkat nasional sampai internasional sekalipun. Kasus semacam ini bisa terjadi dimanapun, tidak harus pada negara yang sedang mengalami konflik. Seperti halnya Amerika yang ramai diperbincangkan baru-baru ini mengenai kasus tewasnya George Floyd di Miami, Florida, AS. Dalam kasus ini banyak terdapat demonstran dari kalangan umat muslim yang sebelumnya telah melakukan sholat berjamaah. Aksi demo ini dilakukan dengan tujuan menentang rasialisme di Amerika yang justru pada akhirnya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Kasus ini sangat trending di dunia maya dan sempat menjadi pokok pemberitaan di kalangan madyarakat dunia.

Disamping kasus kematian pria berkulit hitam, George Floyd, Amerika juga tidak terlepas dari isu ekologikal agama yang erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kepemimpinan umat beragama. Hal ini sangat memungkinkan terjadi di Amerika mengingat berbagai macam teknologi yang digunakan Amerika ialah teknologi canggih dan modern sehingga dampaknya justru lebih masif dirasakan, khususnya dalam kelestarian lingkungan. Salah satu contohnya yakni pembuangan limbah industri besar yang dapat merusak ekosistem air ataupun tanah. Pembuangan limbah di Amerika bisa dikatakan lebih berbahaya dibandingkan pembuangan limbah di Indonesia atau beberapa negara berkembang lainnya karena terdapat perbedaan jenis industri yang kebanyakan dijalankan. Semakin maju suatu negara maka semakin canggih pula produktivitas dan hasil industrinya seperti misalnya penggunaan bahan kimia dan berbagai teknologi pembangkit energi terbaru seperti misalnya nuklir.

Isu ekologikal agama di Amerika bisa berkembang dengan pesat dibandingkan beberapa negara lainnya dikarenakan lingkungan alamnya pada dasarnya memang tidak begitu subur. Dengan demikian, isu ekologi yang muncul tidak hanya karena kelalaian umat manusia dalam menjalankan berbagai aktivitasnya sehari-hari dalam mengolah sumber daya alam, melainkan karena lingkungan dan potensi alamnya sendiri. Berbeda dengan negara lain seperti misalnya Indonesia yang memang memiliki lingkungan subur dan sangat potensial jika dikembangkan untuk kawasan pertanian dan perkebunan. Dengan demikian, di tengah krisis ekologi yang semakin sengit ini seharusnya umat beragama mampu menggungat sikap keberagannya bukan justru sebaliknya atau ikut melakukan eksploitasi dan merusaknya hanya demi kepentingan pribadi. Disamping itu, penafsiran mengenai ilmu agama juga seharusnya dikaji lebih dalam lagi agar tidak rancu atau salah pemahaman.

Calvinisme Carbon Sisi Lain Ekologikal Agama Pada Tantangan Abad 21

Calvinisme Carbon Sisi Lain Ekologikal Agama Pada Tantangan Abad 21 – Di luar pengaruh Kekristenan baru baru ini dengan theoekologis nya, gerakan ekologis semakin dapat dilihat sebagai sesuatu yang muncul dari dalam agama juga dari konsepnya sendiri. Ini adalah karakter religius yang menghasilkan nilai-nilai moral sendiri. Misalkan mengaitkan 7 dosa terbesar dengan apa yang terjadi di bumi saat ini: Pemanasan Global.

Freeman Dyson, fisikawan oktogenarian brilian dan kontrarian, setuju bahwa agama punya semacam pemantik tersendiri untuk menyelamatkan ibu bumi. Dalam sebuah esai 2008 di New York Review of Books, ia menggambarkan tema lingkungan bisa jadi babakan baru “agama sekuler di seluruh dunia” yang telah “menggantikan sosialisme sebagai agama sekuler terkemuka.” Agama ini berpendapat “bahwa kita adalah penjaga bumi, yang merusak planet ini dengan produk-produk limbah dari kehidupan mewah, rakus makanan, penu zina yang rusak tatanan keseimbangan, kebohongan politik, penuh akan tujuh dosa besar, dan bahwa jalan kebenaran adalah hidup sesederhana mungkin seperti halnya Jesus.”

Dan etika lingkungan hidup pada dasarnya sehat, jadi kristen yang sehat adalah sama dengan jadi kristen yang baik. Para ilmuwan dan ekonom sepakat dengan para biksu dan aktivis Kristen bahwa perusakan habitat alami yang kejam itu dosa yang jahat, dan pelestarian burung dan kupu-kupu itu berpahala penuh kebaikan. Komunitas pencinta lingkungan di seluruh dunia – yang sebagian besar bukan ilmuwan – memegang teguh moral, dan membimbing masyarakat manusia menuju masa depan yang penuh harapan. Environmentalisme, yang muncul sebagai denominasi di gereka penuh pada pengharapan dan penghormatan terhadap alam, akan tetap ada di sini.

Menggambarkan lingkungan sebagai sebuah gerakan agama tidak setara dengan mengatakan bahwa pemanasan global tidak nyata. Memang, bukti untuk itu sangat banyak, dan ada alasan kuat untuk percaya bahwa manusia yang menyebabkannya. Tetapi tidak peduli dasar empirisnya, environmentalisme secara progresif mengambil bentuk sosial dari suatu agama dan memenuhi beberapa kebutuhan individu yang terkait dengan agama, dengan implikasi politik dan kebijakan utama.

William James, psikolog dan filsuf perintis, mendefinisikan agama sebagai kepercayaan bahwa dunia memiliki tatanan yang tak terlihat, ditambah dengan keinginan untuk hidup selaras dengan tatanan itu. Dalam bukunya tahun 1902, The Varieties of Religious Experience, James menunjuk pada nilai komunitas yang memiliki kepercayaan dan praktik bersama.

Environmentalisme berbaris cukup mudah di dalam agama. Ketika perubahan iklim secara harfiah mengubah langit di atas kita, lingkunganisme berbasis agama semakin mempengaruhi orang-orang kudus, dosa, nabi, ramalan, bidat, setan, sakramen, dan ritual. Al Gore – menurut para pendukungnya, disalibkan dalam pemilihan 2000, kemudian bangkit dari kematian politik dan naik ke surga dua kali – tidak hanya sebagai dewa Nobel, tetapi malaikat di Academy Awards. Dia berbicara tentang “Peduli penciptaan” dan mengutip Alkitab dengan harapan menarik bagi kaum injili.

Menjual perpuluhan #sudah ketinggalan zaman akhir-akhir karena sekarang seorng kristen bisa meredakan rasa bersalah dengan berupaya menurunkan karbon di langit karena fokus manusia sekarang adalah tentang karbon. Artikel di New Scientist misalnya menunjukkan bahwa masalah obesitas karena banyak makan, atau dosa glutony adalah beban karbon tambahan yang berefek terhadap lingkungan; yang lain menyebut perceraian adalah beban karbon tambahan dari perpisahan keluarga. Dengan demikian, gereja harus memerangi karbon sebagai crusadernya. Karbon adalah dosa-dosa yang harus diperangi gereja modern saat ini.

Tinjauan Teologi Pada Gerakan Ekologikal Agama

Tinjauan Teologi Pada Gerakan Ekologikal Agama – Ekoteologi mengacu pada versi teologi kontekstual pada gerakan ekologikal agama, seperti halnya teologi pembebasan feminis dan Amerika Latin, yang menafsirkan Kitab Suci dan tradisi Kristen melalui paradigma menghindarkan manusia dari kontrol berlebihan sesama manusia lainnya. Sebagai bentuk teologi kontekstual, ekotheologi dapat dikatalogkan dalam Model Praxis. Seperti yang dicatat Stephen Bevans dalam karya nya, Model-Model Teologi Kontekstual, Model Praxis

“memulai dengan kebutuhan untuk menyesuaikan pesan Injil wahyu atau mendengarkan konteksnya.” Teologi dalam Model Praxis “mengambil inspirasi dari kedua teks klasik atau perilaku klasik, tetapi dari realitas masa kini dan kemungkinan masa depan. ” Sayangnya, sebagai bentuk teologi yang berorientasi praksis, ekotheologi masih dibingkai sebagai dibedakan dari bentuk-bentuk teologi tradisional, yang sering dipandang sebagai terlalu Barat atau Eropa sentris- sehingga asing bagi banyak penganut kristen di dunia yang asing dengan budaya barat.

Prasuposisi utama dari Model Praxis adalah bahwa wahyu Tuhan tidak statis, terkandung dalam kanon yang sudah jadi; Allah bekerja sepanjang sejarah dengan cara-cara yang baru dan mengejutkan. Wahyu tersedia bagi semua orang setiap saat dengan cara yang sama; tidak lagi wahyu khusus Allah semata-mata ditentukan oleh penulis pria dari ribuan tahun sebelumnya.

Untuk ekoteologi, titik awalnya adalah dalam kondisi tatanan yang diciptakan, yang membutuhkan serangkaian praduga teologis yang berbeda. Keterwakilan dan anggapan teologis ekotheologi ini dapat ditemukan dalam enam prinsip keadilan lingkungan dari Earth Bible Project:

• prinsip nilai intrinsik: Alam semesta, Bumi dan semua komponennya memiliki nilai intrinsik;
• prinsip keterkaitan: Bumi adalah komunitas makhluk hidup yang saling terkait yang saling bergantung satu sama lain untuk kehidupan dan kelangsungan hidup;
• prinsip suara: Bumi adalah subjek yang mampu mengangkat suaranya dalam perayaan dan melawan ketidakadilan;
• prinsip tujuan: Alam semesta, Bumi dan semua komponennya adalah bagian dari desain kosmik dinamis di mana setiap bagian memiliki tempat dalam tujuan keseluruhan desain itu;
• prinsip saling menjaga: Bumi adalah domain yang seimbang dan beragam di mana penjaga bertanggung jawab dapat berfungsi sebagai mitra dengan, alih-alih penguasa atas, Bumi untuk mempertahankan keseimbangannya dan komunitas Bumi yang beragam;
• prinsip perlawanan: Bumi dan komponen-komponennya tidak hanya menderita ketidakadilan manusia tetapi juga secara aktif melawan mereka dalam perjuangan untuk keadilan.

Tinjauan dari enam prinsip ini menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan penafsiran Kitab Suci dan tradisi teologis. Ada kekhawatiran mereka yang terlalu jauh menghubung-hubungan bible dengan kejadian alam. Ernst Conradie, yang mengkritisi enam prinsip ini, menulis,

“Tim Earth Bible mengakui bahaya ini tetapi berpendapat bahwa masing-masing penerjemah mendekati teks dengan seperangkat asumsi yang tetap mengatur, tapi tidak diartikulasikan dan di bawah sadar dan yang karenanya bahkan lebih berbahaya. Bahaya membaca teks secara acak dapat dihindari jika artikulasi prinsip-prinsip keadilan lingkungan tersebut dilakukan bersamaan dengan mode analisis sejarah, sastra dan budaya [pemikir non kristen],”

Akan halnya, Ekoteologi sebagai gerakan teologis telah konsisten dengan Praxis. Teologi baru ini memasukkan tindakan yang benar sebagai komponen yang diperlukan dalam fondasi pemikirannya. Ekoteologi juga menekankan pembebasan tetapi dengan cara yang berbeda dari versi Amerika Latin, kulit hitam, atau versi teologi pembebasan. Titik tolak ekologi memberikan pembedaan paling signifikan dari teologi pembebasan lainnya. Karena sama-sama bicara tentang nasib manusia yang jangan sampai menderita.

Jadi Kristen Hijau Dengan Ekologikal Agama

Jadi Kristen Hijau Dengan Ekologikal Agama – Gugatan sejarawan Lynn Townsend White, Jr telah diperhatikan secara luas oleh para teologis kristen yang lebih maju. Darinya muncul pengusung ekotheologi yang secara mudah mendasarkan diri pada konsep-konsep yang diangkat dari agama Hindu atau Budha yang kini telah menjadi populer di beberapa kalangan Baby Boomer.

Orang-orang yang dicemooh neo-pagan ini dengan riang menerima julukan “para pemeluk pohon” dan mengatakan bahwa mereka dilahirkan “hijau.” Dan, yang paling mengejutkan, agama Kristen telah mulai menerima sisi hijau itu. Para teolog saat ini rutin berbicara tentang “penatalayanan” – sebuah doktrin tentang tanggung jawab manusia untuk dunia alami yang menyatukan interpretasi dari bagian-bagian Alkitab dengan ajaran kontemporer tentang keadilan sosial.

Pada bulan November 1979, belasan tahun setelah esai White, Paus Yohanes Paulus II secara resmi menunjuk Francis of Assisi sebagai santo pelindung para ahli ekologi. Selama dua dasawarsa berikutnya, Paus Paulus berulang kali membahas dengan penuh semangat kewajiban moral umat katolik “untuk memelihara semua Ciptaan” dan berpendapat bahwa “menghormati kehidupan dan martabat pribadi manusia artinya juga menghormati ke seluruh Ciptaan, yang disebut bergabung dengan manusia dalam memuji Tuhan.” Penggantinya, Paus Benediktus XVI, juga telah berbicara tentang lingkungan, meskipun kurang menggetarkan. Seorang koresponden untuk National Catholic Reporter, menjelaskan “sepertinya luar biasa. Benediktus menerima begitu saja bahwa para pendengarnya akan mengenali lingkungan sebagai objek kepentingan Kristen yang sah. Apa yang diungkapkan dengan nada yang sebenarnya, dengan kata lain, adalah sejauh mana Katolik telah “menjadi katolik hijau.”

Protestan Amerika juga telah berubah hijau. Banyak jemaat membangun “gereja hijau” lalu jadi kristen hijau – memilih untuk memuliakan Tuhan bukan dengan mendirikan tempat-tempat suci yang menjulang tetapi dengan membangun rumah ibadah yang lebih hemat energi. Di beberapa denominasi, program daur ulang atau nampak biasa. Perayaan Hari Bumi yang disponsori Gereja juga tersebar luas, mereka melakukan kampanye hingga membuat jaringan online menyebarkan pesan-pesan kristus tentang theoekologi.

Bahkan beberapa evangelis beralih jadi theoekologi jadi evangelis lingkungan. Luis E. Lugo, direktur Forum PEW tentang Agama dan Kehidupan Publik, berbicara tentang “sensitivitas lingkungan yang lebih luas”:

Setelah diterjemahkan ke dalam istilah Alkitab, [evangelikal] mengambil spanduk lingkungan menggunakan frasa yang selaras dengan komunitas – “Ciptaan peduli.” Itu segera menempatkannya dalam konteks evangelis daripada argumen empiris tentang lingkungan. “Ini adalah dunia yang diciptakan Tuhan. Tuhan memberi Anda mandat untuk merawat dunia ini. ” Ini adalah daya tarik agama yang sangat langsung.

Penghijauan ala evangelis secara luas malah ada yang coba menekan. Utamanya dari para pemimpin evangelikal konservatif yang tetap mewaspadai agenda environmentalisme dan setiap serangan terhadap kecakapan industri yang dapat dilihat sebagai melemahkan kebesaran nasional Amerika. Banyak kaum evangelis semacam itu digolongkan oleh kritik para pemerhati lingkungan atas penggambaran Kitab Kejadian tentang pengkhiatan manusia dalam tatanan alam yang berbuah murka Tuhan. Karena kaum injili lebih waspada terhadap tanda-tanda penyembahan berhala dibanding pengelolaan alam semesta.

Sejauh ini kaum evangelis di lapangan dan pencinta lingkungan sebenarnya saling menjangkau, agar ada manfaat bagi masing-masing pihak. Untuk gereja-gereja dengan jemaat yang menua, isu-isu hijau dilaporkan membantu menarik anggota baru yang lebih muda ke bangku gereja. Dan apa yang diharapkan oleh aktivis lingkungan dengan merekrut gereja untuk tujuan mereka? “Jadi prajurit llingkungan yang martir”.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa
Informasi Edukasi Seluruh Keagamaan Yang Wajib Kita Ketahui